Pontiananak, mengapa aku di
tempatkan dipontianak, kota yang terkenal dengan budaya melayu dan dayaknya,
tapi sekian lama aku ditempatkan dikota ini, aku belum pernah melihat
perkampungan penduduk asli penduduk ini.
Jenuhhhhhhhhhhhhhh, ingat anak
istri tiap hari tiap malam, hingga badan ini kurus kering, itulah dalam tiga
bulan pertamaku dipontianak. Haruskah ku terus begini, harus merindukan mereka
setiap hari?, nanti aku bisa sakit karena itu, aku harus melupakan sejenak
mereka demi tugasku di kota ini, harus bagaimanakah aku?.
“Jalan-jalan yu pak, daripada di
kamar terus........, “, anak buahku ngajak aku jalan, aku pikir benar juga
daripada aku dikamar terus-menerus tanpa ada ujungnya, pengalaman ga dapat,
yang ada nanti sakit malah berabe, aku menyanggupi untuk jalan, malam-malam ke
kota pontianak, nah ceritanya tempatku tuh sekitar 15 km di luar pontianak lho.
Bagus juga kotanya, hehehehehehe,
kirain pontianak tuh yang ada Cuma hutan saja, ternyata ada kotanya pikirku. Waduh
ni orang-orang pada ngumpul-ngumpul ngapain, di sepanjang jalan gajahmada
memang kalau malam hari banyak kedai kopi. Memang begini pak, pontianak
orang-orangnya senang ngopi dan ngobrol ketemu kawan-kawan pada malam hari,
bisa dalam bentuk transaksi bisnis atau transaksi lainnya bisa di lakukan.
Kalau kita lihat dimalam hari tuh
pontianak, sepanjang jalan gajah mada penuh kedai kopi, harga kopinya cukup
terjangkau dulu aku baru-baru kesini Cuma 5000 sekarang naik 2000 ternyata,
sudah 7000. Jalan Gajahmada ke arah selatan tepatnya jalan budi karya, orang
mengenalnya komplek ambalat, aku juga ga tau ko dinamain ambalat, kirain tuh
pulau senketa dengan malaisia ternyata sebutan lain dari jalan Budi Karya,
disana juga sepanjang jalan penuh kedai kopi, tapi disini beda, bedanya apa
sih, disini ada hiburannya, yaitu dangdut hehehehehehehe, aku senang dengerin
musik lho, dan sedikit-sedikit karaoke, biarpun suaranya pas-pasan.
Dikomplek ambalat tuh memang
lengkap ada kedai kopi dangdut murah, yah Cuma 5000 seangkir sambil dengerin
musik, kali-kali nyawer juga, biar dikenal penyanyi hehehehehe. Tapi beda lho
nyawer di subang sama di pontianak disubang kotaku tuh nyawer uang seribuan
bisa, jadi kan kalau punya uang 50000, bisa 50 kali tuh salaman dengan penyanyi
tapi di pontianak gimana, ga bisa itu, gimana kalau sepuluh ribu?, eh.... ga
bisa juga, 20000?, ga bisa juga, waduh harus nyawr minimal 50000 nih bisa
bangkrut juga, mana dapur dua lagi.
Oiya lupa kedai kopi itu namanya
Tisya cafe, tempat kongkow-kongkow dengan kawan-kawan ketemu rekan bisnis,
ketemu sobat and sabit and bisa nyari kawan istimewa, yang ini sih ga usah
diceritakan.
Orang yang datang ke cafe ini
komplek lho, kalau bicara umur nih dari umuran ABG sampai ABT alias (anak baru
tua) hehehehe yang udah ada ubanan tuh, kalau bicara suku dimualai dari melayu,
dayak, jawa, sunda, bugis, madura, arab, china, batak, minang dll, kalau bicara
jenis kelamin mulai dari laki-laki, perempuan, waria (biasanya pria yang jadi
wanita), ada lagi priawa (ini wanita yang jadi laki-laki),
hahahahahahahahahahaha ada ada jk pikirku, perasaan baru disini aku lihat, ada
lagi gay, kalau ini sih umum dimana2 ada. Kalau dari karakter orangnya dimulai
dari orang pendiam (seperti aku ini) sampai orang yang agresif (tiap lagu
dijagedin aza) hahahahaha, kayak kawan ku tuh cecep herman alias si aa. Kalau
dilihat dari kesukaan, mulai inum kofi macam aku nih sampai minum minuman
beralkohol.
Ada cerita tuh yang suka minum
bir banyak-banyak tuh, aku pikir apa uang sendiri ko tiap malam minum 20 botol
sama kawan-kawannya, kalau dikalikan 50000 kan minimal satu juta tuh, belum
kacang, belum yang dampingin, tiap malam itu, pikirku apa kerjaan ni orang, ni
harus punya gaji minimal 50000000/bulan, 30000000 buat minum di cafe dalam satu
bulan, mungkin 20000000 buat keluarga dirumah. Tapi orang jutawan ko
penampilannya kaya gitu, amburadul banget, selidik punya selidik karena kawanku
juga banyak akhirnya aku punya jawaban kalau dia tuh buruh lepas, upang
pendapatan sehari itu habis pake minum satu malam itu, hahahahahahahahaha,
ternyata patungan, sombong banget pikirku kalau ketemu ga pernah nyapa. Emang
siapa dia, siapa aku, masih jelas aku daripada dia, aku kesana Cuma buang waktu
jk, biar penempatan ga terasa lamanya. Eh dah dulu yah tar disambung lagi nih
mau ke kantor dulu